Monument Arek Lancor: Simbol Pluralitas Masyarakat Madura

4
536

Sispek.com – Monumen perjuangan merupakan tugu kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Monomen itu berbentuk lima celurit yang berdiri tegak di tengah alun-alun kota Pamekasan.

Monument itu diapit oleh pusat ibadah dua agama terbesar di dunia, yaitu masjid agung asy Syuhada’ yang merupakan masjid jami’ Pamekasan (kalau di Jakarta, sebutlah masjid Istiqlal) dan gereja yang merupakan pusat ibadah kristenian/kristiani terbesar di Pamekasan. Kalau digambarkan secara geografis, masjid jami’ tersebut terletak di sebelah barat Arek Lancor, sedangkan di sebelah timur berdiri tegak gereja jami’ umat Kristen.

Kedua umat tersebut hidup berdampingan dengan damai tanpa ada konflik baik dalam kehidupan keseharian termasuk juga dalam peribadatannya. Mereka beribada dengan tenang dan tenteram dengan saling menghormati.

Kembali lagi ke Arek Lancor, bahwa ia menjulang di tengah taman yang melingkar sebagai pusat kota pemekasan. Taman itu dilengkapi dengan jalan yang membentuk lafadz Allah.

Sebenarnya Arek Lancor merupakan bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi celurit. Lima kobaran berbentuk kobaran api yang saling berhadapatn. Kemudian kalau kita ambil satu dari lima Arek Lancor tersebut. Kita akan mendapatkan bahwa bentuk arek juga berbentuk tanda Tanya (?) dan terdapat ujung runcing yang mengarah keatas.

Seluruh yang saya sebutkan tadi sebenarnya tidak hanya sekedar bentuk yang tak bermakna. Arek Lancor  merupakan suatu lambang yang mewakili seluruh pribadi masyarakat Pamekasan pada umumnya. Oleh karena itu, untuk memahami masyarakat Pamekasan sedikit banyak kita cukup memahaminya melalui makna yang tertuang dalam Arek Lancor ini.

Baca Juga :   Kehilangan Gus Dur, Kehilangan Guru Bangsa, dan Kehilangan Identitas
  • Shofiatul Jannah

    manteb.. terimakasih atas sharenya

    • Mohammad Firdaus

      iya sama-sama

  • Achmad Muzayyan

    mantabb..

  • Ibn Sina

    Wah begitu toh. Baru tahu. Jadi sebenarnya jiwa plural sudah tertanam dalam darah orang Madura. Jdi kalau akhir2 ini intoleransi di sana smkin membesar, maka itu jiwa jelmaan dari luar Madura.