Monumen Arek Lancor Pamekasan, Simbol Pluralitas Masyarakat Madura

Monumen Arek Lancor Pamkasan

4
673

Sispek.comMonumen Arek Lancor merupakan tugu kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dan simbol pluralitas masyarakat Pamekasan yang sudah terjalin lama.

Monomen itu berbentuk lima celurit yang berdiri tegak di tengah alun-alun kota Pamekasan. Ia diapit oleh pusat ibadah dua agama terbesar di dunia, yaitu masjid agung asy Syuhada’ yang merupakan masjid jami’ Pamekasan (kalau di Jakarta, sebutlah masjid Istiqlal) dan gereja yang merupakan pusat ibadah kristenian/kristiani terbesar di Pamekasan. Kalau digambarkan secara geografis, masjid jami’ tersebut terletak di sebelah barat Arek Lancor, sedangkan di sebelah timur berdiri tegak gereja jami’ umat Kristen.

Kedua umat tersebut hidup berdampingan dengan damai tanpa ada konflik baik dalam kehidupan keseharian termasuk juga dalam peribadatannya. Mereka beribada dengan tenang dan tenteram dengan saling menghormati.

Kembali lagi ke Monumen kebangaan masyarakat Pamekasan, bahwa ia menjulang di tengah taman yang melingkar sebagai pusat kota pemekasan. Taman itu dilengkapi dengan jalan yang membentuk lafadz Allah.

Sebenarnya Arek Lancor merupakan bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi celurit. Lima kobaran berbentuk kobaran api yang saling berhadapatn. Kemudian kalau kita ambil satu dari lima Arek Lancor tersebut. Kita akan mendapatkan bahwa bentuk arek juga berbentuk tanda Tanya (?) dan terdapat ujung runcing yang mengarah keatas.

Seluruh yang saya sebutkan tadi sebenarnya tidak hanya sekedar bentuk yang tak bermakna. Arek Lancor  merupakan suatu lambang yang mewakili seluruh pribadi masyarakat Pamekasan pada umumnya. Oleh karena itu, untuk memahami masyarakat Pamekasan sedikit banyak kita cukup memahaminya melalui makna yang tertuang dalam Arek Lancor ini.

Baca Juga :   Kehilangan Gus Dur, Kehilangan Guru Bangsa, dan Kehilangan Identitas

Namun, simbol arek tersebut terus mengalami menyelewengan makna dan fungsinya. Kalau dahulu ia dijadikan senjata untuk menumpas segala bentuk penjajahan terhadap hakikat manusia di muka bumi, namun kini oleh sebagian dari mereka dijadikan alat untuk membunuh saudara-saudaranya sendiri. Bahkan cukup banyak tragedi-tragedi yang menyesakkan dada. Di antaranya carok massal yang terjadi di Desa Bujur, dan tragedi carok lainnya. Semua tragedi tersebut merupakan bentuk korupsi terhadap fungsi celurit itu sendiri.