Islam dalam Tempurung Politik

5
437

Sispek.com – Beberapa pekan terakhir, bangsa ini mengalami goncangan politik begitu dahsyat. Demo atas nama agama terus digencarkan untuk menyerang dan menumbangkan salah satu calon gubernur DKI Jakarta, sebutlah Ahok. Kini agama dijadikan alat politik untuk memuaskan nafsu-nafsu para pemimin yang haus akan kekuasaan. Memang menyampaikan aspirasi melalui demo dilindungi undang-undang, tetapi mengotori marwah agama dengan kepentingan politik, adalah hal yang perlu kita sesalkan. Lebih-lebih demonstrasi atas nama agama itu, kerap sekali dilatar belakangi oleh agenda-agenda makar serta diwarnai oleh kekerasan-kekerasan.

Agama yang seringkali diramu sebagai tunggangan politik tidak lain ialah Islam. Islam adalah agama yang selalu seksi untuk terus dibawa dalam ranah politik, karena ia dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Tentu yang terbayang dalam pikiran politisi akan Islam ialah tumpukan suara yang menjanjikan kemenangan dalam tiap pertarungan perebutan kekuasaan. Di samping itu, jika sentimen agama dipergunakan untuk kepentingan politik, misalkan menggunakan isu kafir dan muslim, maka jangankan suara pilihan, nyawapun siap dipersembahkan untuk kepentingan itu. Padahal agama tidak lebih hanya dijadikan alat oleh mereka yang serakah akan kekuasaan.

Memang, sejak tumbangnya orde baru, islam radikal mulai mencuat kepermukaan dan berani bergerak terang-terangan untuk mengasut yang lain agar merebut republik ini demi ditegakkannya syari’at islam secara simbolik. Aksi mereka bervariasi, mulai dari dakwa dalam bentuk halaqoh sambil menyuarakan khilafah sampai pada jihad melalui kekerasan. Tampaknya memang aksi-aksi itu berakar dari kekeliruan persepsi tentang hubungan agama dan politik. Kaum-kaum ini telah memposisikan agama sebagai alat politik dan kemudian dimanfaatkan oleh politisi-politisi untuk kepentingan mereka.

Padahal piagam Madinah itu tidak berisi syari’at dalam bentuk simbolik, tetapi syari’at substansial. Syari’at substansial itu ialah aturan yang maksud dan maknanya sesuai dengan maksud dan makna sebagaimana dijelaskan dalam syari’at, tanpa ada satupun yang bertentangan dengannya. Para ulama menyebutkan piagam Madinah, layaknya pancasila yang substansinya sesuai dengan syari’at.

Selain itu posisi agama dalam kehidupan manusia adalah harga mati, segala perintah dan larangannya merupakan wahyu dimana kebenarannya tidak dapat dijangkau oleh nalar, alat indera dan pengalaman manusia. “Wahyu ini sangat erat hubungannya dengan keyakinan, sehingga apapun perintah dan larangan yang termaktub dalam wahyu, masuk akal atau tidak, empirik atau tidak, tetap harus dipegang oleh pengikutnya sebagai dogma yang tidak boleh diragukan lagi kebenarannya”(Djalali As’ad : 2015).

Dengan modal yang cukup menjanjikan inilah, tak ayal agama seringkali disalahgunakan sebagai bungkus demi melancarkan aksi-aksi kotor. Apabila hal ini terus dibiarkan, maka kodrat agama sebagai ajaran kebaikan, kedamaian, keharmonisan dan ketentraman mulai kabur dan tidak lagi terlihat dalam pranata kehidupan sosial manusia.

Baca Juga :   Dekadensi Intelektual Mahasiswa

Agama tidak boleh terkurung dalam politik kotor, agama harus mengambil alih perannya sebagai rambu dan kontrol kehidupan manusia untuk kemudian direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Islam sebagai agama mayoritas harus bisa menjadi panutan bagi agama-agama lain yang ada di Indonesia, islam harus bertanggung jawab dalam mendinamiskan perdamaian global, islam harus menjadi juru damai, karena memang disitulah sebenarnya misi islam dalam menciptakan tatanan masyarakat yang damai, adil sejahtera bagi seluruh umat manusia dan masyarakat rahmatan lil alamin.

Berbicara Agama dan politik, agama dan politik tidak bisa dipecah satu dengan yang lainnya, agama harus senantiasa dibawa dalam kehidupan manusia, agar dalam bertindak manusia tidak kebablasan. Selain itu agama dan politik harus sejalan, bukan agama yang mengikuti kemauan politik, tapi poltiklah yang harus sesuai dengan agama, nilai-nilai suci agama harus mampu memberikan warna dalam kehidupan berpolitik, sehingga benar-benar tercipta dinamika politik yang bersih, jujur dan adil.

Sekali lagi islam adalah agama yang penuh kedamaian, bukan agama yang keras dan penuh kebencian. Kembali pada islam yang kaffah sejatinya mengembalikan perilaku ummat islam pada nilai-nilai keislaman, dimana didalamnya tidak pernah diajarkan tentang kekerasan dan kebencian. Maka dari itu sudah saatnya umat islam lebih cerdas lagi dalam memfilter informasi apapun yang diterima, lebih berhati-hati dan jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu miring yang ingin memecah belah islam itu sendiri, mampu memilah antara yang murni ajaran agama dan yang sudah terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan, agar tidak terjadi pemahaman yang distortif sehingga umat islam tidak semakin terpecah belah menjadi serpihan-serpihan kecil yang rapuh dan mudah dihancurkan. karena sejatinya Islam itu perdamaian bukan pertikaian, islam itu cinta tanah air “hubbul waton” bukan makar, islam itu patuh pada pemerintah atau pemimpin “ulil amri minkum” bukan melawan pemimpin dan islam adalah rahmat bagi seluruh alam, menebarkan salam damai dan sejahtera bagi seluruh ummat manusia. Sudah saatnya umat islam bangkit dan bersatu, mengukuhkan ukuwah islamiyah semangat persatuan seiman dan seagama. Namun harus tetap menjaga toleransi dan kerukunan dengan umat agama lain yang ada di indonesia. Hidup rukun damai berdampingan diatas keragaman suku, ras dan agama, sebagaimana yang dicita-citakan pejuang bangsa ini dalam membangun persatuan dan kesatuan diatas kebhinekaan.