Peran Perempuan di Madura

0
573

Sispek.com – Peran perempuan dalam status sosial tetap menjadi perdebatan menarik, terutama di Madura. Ada kalangan yang mengatakan bahwa perempuan hanya mempunyai peran yang cukup sempit, sebut saja peran di bidang domistik. Peran domistik artinya, perempuan hanya menangani hal-hal kecil di bidang perdapuran seperti memasak, mencuci dan melayani suami.

Keadaan itu tentu mempunyai kaitan erat dengan budaya Madura. Masyarakat Madura menganut budaya patriarki yang sampai saat ini masih menggerogoti sendi-sendi kehidupan mereka. Laki-laki Madura menganggap perempuan sebagai makhluk lemah dan tak mampu melakukan pekerjaan selain pekerjaan di rumah. Anggapan lemah terhadap perempuan mengakibatkannya terbelenggu oleh budaya itu. Bahwa perempuan menjadi makhluk yang selalu butuh perlindungan dari laki-laki dan selalu dikwatirkan dalam tiap aktivitasnya di luar rumah.

Hal ini bisa dilihat dalam kondisi seorang perempuan yang selalu menemani suaminya di sawah, bahkan perempuan kerap kali menjadi alasan terjadinya “putih tulang putih mata” yang dikenal dengan istilah “carok ‘, yang mana laki-laki sering berkelahi bahkan rela mati hanya untuk memperjuangakan martabatnya dalam melindungi dan menyayangi seorang perempuan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura menjunjung tinggi seorang perempuan yang perlu dilindungi karena perempuan dianggap “lemah’ sehingga peran perempuan tidak seluas  laki-laki. Anggapan bahwa perempuan itu adalah sosok yang lemah, menyebabkan sempitnya ruang gerak perempuan di Madura.

Melihat pada kenyataan yang ada saat ini, bahwa perubahan zaman menuntut seseorang untuk mengembangkan pemikirannya. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi perkembangan zaman. kenyataan berbicara bahwa saat ini perubahan zaman menuntuk manusia untuk bisa mengimbangi diri, tidak terbawa arus globalisasi. Perubahan zaman tidak hanya berpengaruh pada sistem pendidikan saja. Akan tetapi, globalisasi juga ikut mengancam moral anak bangsa. Oleh sebab itu, haruskan seorang perempuan membiarkan dirinya hanya berada di atas kasur? Di dapur? Lalu bagaimana dengan nasib pendidikan anak? Karena pendidik utama bagi seorang anak adalah ibunya. Namun, bagaimana bisa seorang ibu bisa mendidik anak jika sang ibu tidak memiliki wawasan? Itulah sebabnya bahwa peran perempuan di era modern ini untuk dapat mengimbangi perubahan zaman untuk mendidik generasi-generasi yang berakhlak al-Karimah. Tidak hanya itu, peran perempuan tidak hanya sebagai pendidik, akan tetapi memberikan sumbangsih untuk perubahan yang lebih baik.

Baca Juga :   "Islam, Hari Kartini dan Adik Perempuanku"

Pentingnya peran perempuan di ruang lingkup luas tidak semena-mena melewati batas. Artinya, bahwa seorang perempuan memiliki peran di politik, sebagai dosen, sebagai seniman, sebagai manager tidak menggugurkan kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya. Peran penting yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan kontemporer saat ini adalah perempuan mampu membuka cakrawala pendidikan, berwawasan luas, mampu mengimbangi perubahan zaman dengan menanamkan dan meneguhkan moralitas anak bangsa. Karena dalam menghadapi perkembangan zaman sekarang ini hanya dengan jalan “belajar” untuk menambah wawasan yang tentunya untuk kejayaan Islam.