“Jakarta Ingusan”

0
321

Sispek.com – DKI Jakarta tengah berbahagia dikarenakan telah mendapatkan pemimpin baru. Anis Baswedan adalah pemimpin cerdas, beretika dan yang terpenting adalah ia merupakan seorang muslim. Pilihan sebagian besar warga Jakarta tertuju padanya setelah melalui banyak kegaduhan yang melibatkan tidak hanya warga Jakarta saja. Orang dari luar Jakarta berbondong-bondong masuk Jakarta mendukungnya dikarenakan mereka menginginkan DKI Jakarta dipimpin oleh pemimpin muslim yang beretika.

Dari pemimpin sebelumnya, Ahok, kita tidak menemukan kekurangan selain ia merupakan etnis Cina yang tidak beragama Islam dan kalau bicara suka ceplas-ceplos. Tapi justru, hal-hal itulah yang membuat ia kalah dalam pilkada kota Jakarta tahun 2017. Kenapa demikian? Tentu, kemenangan Anies-Sandi (tidak bisa ditepis) disebabkan oleh “politisasi agama”. Beberapa kegaduhan yang tercipta di DKI Jakarta saat tengah berlangsungnya pilkada tidak lain disebabkan oleh opini penistaan Al-Qur’an (surat Al-Ma’idah ayat 51). Bagaimana tidak, melihat dari hasil-hasil survey dan pada pemilihan putaran pertama, Ahok mengungguli pasangan calon lain dan akhirnya pada putaran kedua hal itu berbalik.

Persoalannya bukan pada penggiringan opini tentang “penistaan”, tetapi masalahnya terletak pada masyarakat DKI Jakarta itu sendiri yang gampang termakan opini tersebut. Masyarakat yang demikian tidak sama sekali mencerminkan masyarakat madani atau perkotaan. Masyarakat madani seharusnya sudah lebih maju daripada masyarakat desa dari segala aspek terutama cara berpikir. Cara berpikir ekskluifisme tidak mencerminkan masyarakat kota, justru masyarakat kota itu harus memiliki cara berpikir yang inklusif yaitu dapat menerima perbedaan-perbedaan atau keragaman. Suatu keberpihakan tidak didasarkan atas kesamaan ras, suku dan agama. Isu-isu soal perbedaan ras, suku dan agama seharusnya bukan menjadi pertimbangan dalam memilih karena itu tentu sangat bertentangang dengan ke-Bhineka-an kita.

Baca Juga :   Ini Tanda-Tanda Kiblat Peradaban Islam Dunia Sudah Bergeser Ke Indonesia

Hasil pilkada DKI Jakarta ini mencerminkan bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta masih eksklusif dalam cara berpikirnya. Mengapa demikian? Tentu asumsi tersebut menguat setelah melihat hasil pilkada Jakarta yang berbalik seratus delapan puluh derajat dari sebelum adanya “politisasi agama” dan setelahnya. Sudah pasti bahwa ada faktor kuat yang menyebabkan “politisasi agama” itu menjadi metode jitu dalam memenangkan paslon nomer urut 3 tersebut. Faktor itu kemungkinan besar adalah cara berpikir warga Jakarta yang masih gampang dipengaruhi. Warga Jakarta ibarat anak kecil yang masih ingusan yang tidak sama sekali mempunyai independensi. Kalau makan masih disuapin dan kalau kemana-mana masih digendong.

Cara berpikir yang tidak memiliki independensi sama sekali adalah cara berpikir masyarakat pedesaan. Kita tahu bahwa di pedesaan, masyarakatnya menghadapi masalah tidak serumit masalah yang ditemukan di perkotaan. Menurut data yang penulis ambil dari Pemprov. DKI Jakarta, setiap tahun terjadi pertumbuhan jumlah penduduk di DKI Jakarta dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan tentu asal semua warga yang masuk ke DKI Jakarta tersebut adalah dari desa atau kampung. Bisa dikatakan bahwa penduduk DKI Jakarta lebih banyak yang bukan penduduk asli atau pendatang. DKI Jakarta yang banyak diwarnai oleh penduduk dari kampung, yang masih cara berpikirnya seperti anak kecil ingusan tersebut, ternyata belum mampu beradaptasi dengan baik dengan kehidupan di kota, terutama dalam hal cara berpikir. Cara berpikir yang digunakan masih dengan cara berpikir kampungan yang memiliki tingkat eksklusifisme tinggi. Tentu saja sikap eksklusif tersebut disebabkan oleh tidak banyaknya keragaman yang bisa ditemukan di pedesaan.

Dan kesimpulan yang dapat dikatakan:

Badan mereka saja yang berada di kota, tapi otak masih kampungan.

 

Sekian, semoga menyegarkan…

SHARE
Previous articleSedang Gila
Next articleKesan Film “Cinta Laki-laki Biasa”
Penulis Buku "Cinta Ingusan"; Perindu yang mengekspresikan perasaan melalui lagu dan puisi; Sang Fakir yang tidak tahu banyak "kata"; Pembelajar yang berusaha tekun menghiasi dunia dengan kata-kata.