Kesan Film “Cinta Laki-laki Biasa”

0
412

Sispek.com – Saya tidak akan bercerita alur kisah film secara detil tapi berikut ini petikan pelajaran dari film tersebut.

  1. Saat Nania (Velove Vexia) memutuskan menerima ajakan ta’aruf Rafli (Deva Mahendra), ia mendapatkan kecaman dari seluruh anggota keluarganya. Sang mama yang telah melirik seorang Dokter muda, Tyo (Nino Fernandez), tidak rela menantukan seorang mandor sebuah proyek pembangunan Perumahan sederhana. Rafli berhasil meyakinkan ayah Nania dengan menjawab 1 pertanyaan yang ditujukan padanya. Akhirnya mereka menikah dan memiliki 2 orang anak. Keadaan perekonomian Rafli terus mengundang kebencian keluarga Nania. Ketiga saudaranya bersaing kemampuan membantu Nania dalam hal materi namun ujung-ujungnya pemberian itu diungkit-ungkit kembali. Cara pandang keluarga Nania yang merendahkan Rafli semakin menyulut kala Nania mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gagar otak.

Sepertinya sudah karakter umum jika seorang ibu lebih sulit menerima menantu daripada ayah. Banyak ekspektasi yang diinginkan meski tujuannya bagus yakni ingin anaknya hidup bahagia dan tidak serba kurang. Tentu seorang ibu akan memilih Tyo, dokter muda yang ganteng dan mapan dibandingkan seorang mandor. Namun dalam cerita di atas Nania mampu membuktikan bahwa pilihannya adalah tepat. Ungkapan tajam “kebahagiaan terlalu sempit jika cuma dimaknai dengan materi” sesaat mengunci mulut mamanya. Bukan materi yang dicari seorang Nania pada diri Rafli tetapi kesolehan dan tanggungjawab Rafli. Sangat penting mementingkan bebet bibit bobot tetapi tidak satu-satunya sebab menjamin sebuah kebahagiaan jika tanpa cinta yang tulus. Orangtua semestinya berkapasitas untuk memberi arahan bukan turut menentukan.

  1. Hidup sederhana membuat keluarga kecil Rafli behagia. Berbeda dengan ketiga kakak Nania yang masing-masing tengah dirundung masalah. Kakak pertamanya bersuami seorang politikus ambisius yang terjerat kasus korupsi, kakak keduanya sering diselingkuhin suaminya dengan alasan kerja keluar kota, sedangkan kakak ketiganya sering cekcok adu persepsi dan obsesi mengenai pendidikan buah hatinya yang dinilai kurang bermoral di sekolahnya, lantaran gengsi orangtua adalah dosen. Semuanya melukis senyum palsu pada wajah masing-masing demi terlihat sempurna dan kesan bergelimang harta.

Lagi-lagi menyampaikan bahwa kebahagiaan tumbuh bukan karena harta belaka. Boleh kaya harta tetapi jangan miskin hati lebih-lebih miskin cinta Ilahi.

Baca Juga :   Telaga: Potret Perempuan Bali yang Merdeka
  1. Prinsip dan sikap menghadapi masalah/musibah. Sosok Rafli digambarkan sebagai seorang Muslim yang saleh, berpikir secara matang dan tegas dalam mengambil sikap. Terlihat sejak awal ketika ia mempertahankan pendapatnya tentang pembangunan rumah sederhana; memilih ta’aruf bersama nania; hingga keputusan Rafli saat Nania hendak menjalani pemulihan di Jerman. Ia tidak serta merta mengizinkan, justru memilih merawat Nania sendiri dengan kesempatan hanya 3 hari saja.

Bukan hanya itu, kesabaran Rafli diuji berkali-kali setiap cobaan datang padanya. Ditinggal ayahnya, membuat Rafli menjadi kepala keluarga. Menghadapi perlakuan dari keluarga sang istri, ditambah lagi istri harus mengalami lupa ingatan yang mengharuskannya mengasuh anak-anaknya seorang diri. Dalam situasi tersebut Rafli konsisten tetap bersabar dan doa, tidak mudah putus asa. Berbeda dengan kakak Nania yang hampir bunuh diri karena malu suami tertangkap polisi. Akibat kelakuan kakaknya ini, Nania berusaha mendatanganinya namun belum sampai ke kediaman, Nania kecelakaan dan divonis lupa ingatan.

  1. Semenjak dirawat inap di rumah sakit, Nania lebih akrab dengan Tyo. Ada rasa cemburu pada Rafli karena selalu dianggap asing oleh Nania. Ikhtiar apapun dilakukan Rafli untuk mengembalikan ingatan Nania. Tetapi malah mengundang banyak pertanyaan oleh Nania yang seringkali menyakiti hati Rafli termasuk mengungkit pernikahannya dengan seorang mandor bangunan.

Akhirnya Nania bersedia ikut kembali ke rumah bersama Rafli dan ingin belajar mencintai sekaligus menjadi ibu bagi anak-anak Rafli, seketika itu Rafli menjawab “Cinta tidak untuk dipelajari. Cinta dibentuk dari kenangan di masa lalu”. Dalam waktu 3 hari Rafli mampu mengembalikan ingatan Nania. Berkat upaya keras dan cinta yang luar biasa rafli berhasil melewati semua ujian salah satunya ialah meluluhkan hati kedua mertuanya.

Dari film ini menjelaskan bahwa kita tidak bisa menilai orang dari kekayaannya. Rafli ialah sosok lelaki biasa yang memiliki cinta luar biasa. Jangan pernah mudah menyerah, Allah selalu ada menolong hamba-Nya yang mau berusaha. Seperti yang sering diucapkan Nania “Perkuat ikhtiar dengan doa, yakin pasti bisa”. Selengkapnya klik di sini.