Perempuan dan Perjodohan

0
227
Sispek.com – Jika ada pertanyaan “maukah kamu dijodohin orang tua?”, sebagian menjawab “enggak lah, emang orang dulu yang mau-mau aja gak pake mikir”, atau “sekarang bukan zaman Siti Nurbaya”, atau “zaman kita sudah berbeda dengan zaman orang tua kita”, bahkan yang lebih tajam lagi “kalau dijodohin cumanya nampung/nadahin harta orang tua”, dan masih banyak lagi jawaban yang menyiratkan penolakan. Mereka yang enggan dijodohkan beranggapan takut gagal jika bukan pilihan sendiri. Masih dengan pertanyaan yang sama, sebaliknya sebagian orang justru menghendaki perjodohan oleh orang tua mereka. ‘Setiap anak adalah harapan terbaik bagi orang tua’ menjadi dalih kuat bagi mereka untuk menerima pilihan orang tua. Sehingga diyakini bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya ke tangan orang sembarangan.

Benarkah begitu? jadi sebaiknya pilih yang mana?

Sebelum membahas lebih lanjut, sebaiknya kita sepakati terlebih dahulu pengertian perjodohan yang dimaksud dalam tulisan ini. Menemukan jodoh adalah sebuah kebahagiaan bagi setiap pasangan. Lantas kemudian apakah jodoh itu? Jodoh adalah pasangan hidup rumah tangga dalam ikatan halal dan tanggungjawab di hadapan Allah. Pasangan hidup tidak hanya orang yang siap hidup bersama kita dalam keadaan apapun tetapi juga memaknai sebagai wujud implementasi kecintaannya serta ibadah kepada Allah. Orang bilang jodoh itu ibarat kerikil berserakan di manapun berada. Kita tidak tahu akan bertemu dengan yang mana, di mana dan kapan. Entah pilihan sendiri, melalui mitra kerja, dari pilihan keluarga atau siapapun tidak menutup kemungkinan membuka pintu jodoh. Jika demikian, artinya jalan manapun merupakan proses perjodohan bukan? Hanya berbedaannya terletak pada siapa yang memilih, kau atau orang lain.

Terkait contoh pertama di atas, tampak mengamini adanya perempuan yang tidak diberi ruang untuk menentukan keputusan sendiri. Tidak heran jika hingga saat ini sebagian memahami perjodohan sebagai suatu tindakan pemaksaan. Sehingga orang-orang dalam lingkaran ini mengambil jalan untuk mengenal calon pasangan dengan kemasan status “Pacaran”. Mengenal se-intens mungkin dan sedekat mungkin hingga menemukan kesesuaian. Proses ini umumnya berlangsung selama 1 hingga 3 tahun bahkan bisa lebih. Namun, kita tidak pernah tahu apakah seseorang yang telah kita kenali bertahun-tahun ini kelak halal bagi kita atau tidak. Entah sejak kapan istilah pacaran itu diciptakan, sampai detik ini hampir tidak ada yang tidak mengenal pacaran (red. Sebelum menikah)

Baca Juga :   CANTIK BOLEH, BODOH JANGAN

Pertanyaan kemudian adalah: Apakah kita menikah untuk berpisah? Mengapa harus takut gagal jika tak pacaran terlebih dahulu? Tidak malukah kau meng-’halal’-kan diri kepada seseorang yang belum tentu halal bagimu? Apakah itu tandanya kau meragukan Allah sang pemberi cinta? Jawabannya ada pada p(em)ikiran kelompok contoh kedua di atas. Orang dalam lingkaran ini menyadari bahwa menjaga kehormatan diri sendiri itu sangat penting. “ta’aruf” sudah menjadi langkah yang tepat untuk mengenal satu sama lain. Meski perkenalan yang tak memakan waktu lama, kenyataannya tidak sedikit yang membuktikan keberhasilannya membangun pondasi rumah tangga berkat perjodohan kedua orang tua. Upaya ini dilakukan dengan pengambilan keputusan secara hati-hati. Oleh sebab itu perjodohan dengan jalan ini lebih sering diserahkan kepada ahli agama seperti kyai, ulama dan sejenisnya, bukan kalangan sembarangan.

Sekarang orang sudah sanggup menanggapi persoalan perjodohan dengan bijak. Tidak tepat pula jika kita menggatakan bahwa orang dulu bodoh atau kontruksi budaya saat itu berbeda dengan masa sekarang, ya mungkin mereka tidak menguasai pengetahuan secara ilmiah seperti ilmuwan abad milenium. Namun mereka sangat menguasai ilmu spiritual, ilmu yang sampai kapanpun kita butuhkan. Justru dengan ini seharusnya kita belajar dari orang-orang terdahulu. Perjodohan dari orang tua tidak selamanya diartikan pemaksaan lalu pada gilirannya hidup bertameng dengan harta orang tua. Begitupun istilah pacaran sebelum menikah sebaiknya tak perlu menghabiskan waktu bertahun-tahun. Apalagi hingga terjerumus ke arah yang salah. Keduanya tidak seburuk itu asal tetap mawas diri. Orang yang berpengalaman sering berpesan jangan takut tidak bahagia, nama pasangan hidup kita sudah tercatat di Lauh Mahfuzh. Semoga Allah selalu meluapkan kecintaan kita pada-Nya. Apapun pilihannya entah melalui mediator atau tidak, doa restu orang tua menjadi kunci utama langgengnya sebuah rumah tangga. “Ridho Allah ada pada ridho orang tua, murka Allah ada pada murka orang tua”. Wallahu a’lam bil Showab