Perpaduan antara Definisi dan Praktek; Islam Bicara Aktualisasi Konsep Pemimpin dan Kepemimpinan

4
350

Sispek.com – Setiap Instasi pemerintah pada masanya akan membutuhkan seorang pemimpin dalam kepemimpinan. Definisi kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu tentu yang dibutuhkan bukanlah pemimpin sembarangan. Dalam hal ini, Islam sangat memperhatikan kesesuaian konsep pemimpin dan kepemimpinan secara teori dan praktis.

Menjadi pemimpin adalah cita-cita sebagian orang. Kendati demikian, bukan berarti dapat diperebutkan melalui cara apapun karena menjadi pemimpin adalah titipan Allah, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan. Suatu ketika seorang sahabat Nabi meminta jabatan kepada beliau, dimana orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berilah kepada kami jabatan pada salah satu bagian yang diberikan Allah kepadamu”, maka Rasulullah saw menjawab: “Demi Allah kami tidak mengangkat seseorang pada suatu jabatan kepada orang yang menginginkan atau ambisi pada jabatan itu” (H.R. Bukhari Muslim).

Maka ketika seseorang telah dikehendaki sebagai pemimpin hendaknya menyadari bahwa itu titipan Allah semata-mata dipercaya untuk mengurus sekaligus melayani masyarakat dengan baik. Pemimpin dalam kacamata Islam, bukan tentang Machiavelli –Filsuf Modern asal Italia yang berprinsip bahwa seorang pemimpin melancarkan kepentingan pribadinya tanpa mengindaikan moral, Seperti perkataannya “Seorang Pemimpin harus bermain baik sebagai manusia maupun sebagai binatang buas. Sang pemimpin harus bisa memakai kedua kodrat itu, yang satu tanpa yang lain tak dapat ada”- melainkan ia yang menjalankan kepemimpinan atas dasar kontrak sosial dengan masyarakatnya serta ikatan perjanjian dengan Allah YME.

Ini sejalan dengan pesan Islam tentang keseimbangan antara beribadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama manusia. Islam merupakan agama rohmatan lil alamin, di dalamnya terkandung kebaikan kemanusiaan yang ditunjukkan dalam wujud budi pekerti untuk saling menghormati dan membentuk manusia yang humanis bukan terbatas pada agama, ras, warna kulit, atau golongan-golongan tertentu melainkan kebaikan untuk seluruh masyarakat. Dengan catatan bahwa kebaikan ini dilakukan semata-mata karena kita mempunyai tanggungjawab di hadapan Allah. Setiap pemimpin pasti akan tiba saat di mana sebuah pertanggungjawaban dipertanyakan. “Takutlah kalian terhadap hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak didzalimi (Q.S. Al-baqarah: 281)”.

Baca Juga :   Ini Beban Anis dalam Memimpin Jakarta

Konsep al-Farabi, Filsuf Muslim asal Turkistan, tentang al-Madinah al-Fadillah (Negara Utama) menerangkan bahwa untuk membentuk kedaulatan utama ialah adanya kesatupaduan antara pemimpin dengan bawahannya seperti jantung dan organ-organ tubuh yang lainnya. Seorang pemimpin tentu harus lebih baik dari rakyatnya. Seorang pemimpin adalah ia yang cinta kepada ilmu pengetahuan, keadilan dan tingkat keberimanan yang kuat kepada Allah. Sebab kriteria ini yang dapat membuat peraturan-peraturan pemerintahan yang berfaedah dan dapat memakmurkan rakyatnya, serta dapat mendidik rakyatnya berakhlak baik.

Oleh karenanya kepemimpinan yang baik adalah yang terdiri dari selain pemimpin yang elit intelektual juga mempertimbangkan moral berdasarkan nilai-nilai kebaikan universal. Begitupun masyarakat senantiasa turut andil mendukung jalannya proses kepemimpinan tersebut. Opini ini telah dimuat koran Tangsel Post.