Anak akan Berkualitas jika Dididik dengan Metode Ini

2
236

Sispek.com – Hampir diberbagai belahan dunia terjadi perdebatan tajam tentang apa yang seharusnya diajarkan di sekolah.  Perdebatan itu melahirkan sedikitnya empat madzhab kurikulum pendidikan, kemudian ditambah satu mazhab, sehingga menjadi lima madzhab. Madzhab pertama adalah esensialisme. Dalam madzhab tersebut dijelaskan bahwa guru harus mengajarkan siswa pengetahuan INTI dari mata-mata pelajaran esensial, dengan jumlah yang sangat terbatas atau bisa juga disebut dengan ringkasan. Pada zaman Eropa kuno, dalam bukun Republik, Plato merancang suatu kurikulum untuk filosof-raja dan pengawal. Kurikulum ini mencakup tujuh mata pelajaran. Empat diantaranya Musik, astronomi, geometri, dan aritmetika dirancang untuk pendidikan esensial. Tiga lainya ialah –tata bahasa, retorika, dan filsafat atau logika-didesain untuk menyediakan motode-metode dalam mempelajari pengetahuan esensial di atas.

Madzhab kedua ialah ensiklopedisme. Konsepnya adalah materi pendidikan harus mencakup seluruh pengetahuan manusia, dengan menggunakan “buku-buku ajar”. Madzhab ini diprakarsai oleh Comenius. Ia berkeyakinan bahwa pendidikan yang baik harus tumbuh dari “hukum alam”, karena proses belajar dimulai pertama kali dari indra. Kurikulumnya dirancang untuk mengembangkan kemampuan indra lebih dahulu.

Madzhab ketiga ialah model pendidikan yang berbasis indra oleh filsafat Aristoteles.i Dalam teorinya dijelaskan bahwa tidak mungkin ada sesuatu dalam intelek, sebelum ia ada terlebih dahulu dalam cerapan indra. John Dewey, Profesor pendidikan asal Amerika dalam teori progresif menjelaskan, pertama bahwa pendidikan harus berpusat pada anak dan kurikulumnya harus dirancang berdasarkan kebutuhan pribadi setiap anak. Kedua adalah “berpusat pada masyarakat”. Pendapat ini diusulkan oleh para ahli pendidikan seperti Paulo Freire dari Amerika Latin yang menganggap tujuan utama pendidikan adalah merekonstruksi masyarakat.

Madzhab keempat ialah gerakan pragmatis atau konsep pendidikan berpusat pada anak. Herbert Spencer, pada awal abad ini, melontarkan pertanyaan: “pengetahuan apa yang paling berharga? “Jawabannya: “pengetahuan yang memampukan kaum muda untuk menangani berbagai masalah dan menyiapkan mereka untuk menyelesaikan berbagai masalah yang kelak akan mereka temui sebagai orang dewasa di tengah masyarakat demokratis”. Setiap lulusan sekolah dapat mengeja, membaca, menulis, dan memahami dasar-dasar matematika, sejarah, geografi, ilmu-ilmu fisika, musik dan masih banyak yang lainnya. Menghasilkan lulusan memiliki kemampuan dalam bertindak, belajar, dan mengatur masadepan sendiri secara mandiri.

Baca Juga :   Dekadensi Intelektual Mahasiswa

Alternatif kelima mengombinasikan unsur-unsur terbaik dari keempat pendekatan yang lain, pendekatan akal sehat (common sense), seiring dengan munculnya pengertian-pengertian baru dari berbagai penelitian dan pengalaman, dan disebabkan oleh teknologi yang memudahkan akses informasi, meninggalkan dogma, memilih yang terbaik dari semuanya dan berpikiran terbuka.