Fenomena Kekalahan Ahok Potret Perempuan di Masa Islam Awal

2
358

Sispek.com – Mulai awal tahun hingga akhir bulan April 2017, tanah air dihebohkan oleh fenomena sepak terjang Ahok dalam percaturan perpolitikan pilgub DKI Jakarta. Fenomena tersebut mampu menguras tenaga berbagai elemen, baik kalangan pro ataupun kontra Ahok hingga setelah kekalahannya dalam hitung cepat yang dirilis oleh lembaga survie ternama.

Pada saat Ahok menjabat wakil gubernur DKI, ia adalah salah satu orang yang begitu bersemangat mendukung Jokowi untuk memenangkan pilpres. Langkah politik itu tentu bermotif politik pula, yaitu agar ia menduduki singgasana kursi gubernur menggantikan Jokowi yang saat itu adalah gubernur. Di sisi lain tampaknya Ahok ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya adalah orang yang hebat, karena ditengah banyaknya SDM hebat di Jakarta dia berkesempatan menjadi orang nomer satu di Jakarta.

Dalam prespektif ukuran kepuasan diri, sudah barang tentu Ahok merasakan lebih puas jika ia salah satu minoritas kaum Tionghoa mampu menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta, sebuah kota yang menjadi barometer kesuksesan demokrasi di negara kesatuan republik Indonesia. Tepatnya dengan naik tingkat menjadi gubernur yang sebelumnya adalah wakil gubernur. Hal itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri meski itu boleh dibilang bukan bagian dari usahanya sendiri.

Dengan kebanggaan yang luar biasa setelah dianggap telah diberi kepercayaan warga, ia pun melaksanakan tugas-tugasnya dan menyuarakan semua idenya. Bahkan ia juga nampak sering berucap kasar dihadapan semua kalangan dengan penuh percaya diri. Hal itu dilakukan karena ia sadar jika tidak disuarakan sekarang maka kapan lagi gagasan itu akan diutarakan sedangkan kesempatan minoritas sangat kecil untuk didengar apalagi bisa diletakan dalam kursi nomor satu di DKI dan menjadi orang yang harus dihormati. Dalam istilah Jawa, “ngelunjak” setelah diberi kesempatan untuk turut ikut dalam hal kepemimpinan.

Hal inilah kiranya sama dengan apa yang sudah terjadi dalam perempuan di masa Rasululluh SAW. Dimana perempuan dengan begitu lantang menyuarakan pikirannya setelah sekian lama di masa Jahiliah mereka hanyalah barang murahan yang keberadaannya bahkan dianggap memalukan. Ali Syariati dalam bukunya women in the eyes and heart of Muhammad menjelaskan bahwa kehidupan keluarga nabi sendiri bahkan terekam mereka istri-istri nabi sampai terjadi cekcok dengan orang yang paling mulia di sisi Allah SWT. Percecokan ini salah satu sebabnya karena mereka perempuan sudah diberi kebebasan dan kedudukan yang sama dengan laki-laki setelah sekian lamanya mereka tidak diberi kesempatan untuk turut berkontribusi dalam segala aspek kehidupan.

Fenomena Ahok tidak cukup berhenti dalam kasus itu. Ahok lagi-lagi menuai kritikan dalam segala tindakan, mulai dari kasus reklamasi hingga statmant-nya yang berujung pada kasus penistaan agama. Meskipun kinerjanya tidak diragukan dalam mengurus Jakarta namun Ahok tetap menjadi sorotan bagi kalangan yang merasa mayoritas dan merasa memiliki kedudukan yang lebih “mulia” dibanding gubernur DKI. Dari situlah ia harus berujung pada pengadilan untuk mendapat keputusan akan tindakannya itu.

Baca Juga :   “Jakarta Ingusan”

Fenomena inilah kiranya sama dengan perempuan dimasa Islam awal. Perempuan pada masa itu harus siap dibawah payung laki-laki yang merasa lebih superior dari kaum hawa. Meskipun dimata Islam hanya taqwa yang membedakan superioritas hingga nabi pun memberikan kebebasan berpendapat kepada perempuan, namun nyatanya mereka para perempuan kembali diposisikan yang sama seperti masa Jahiliyah sehingga jarang (jika tidak ingin mengatakan tidak ada) perempuan yang turut tampil dalam aspek politik dan agama. Sehingga wajar jika tidak ditemukan mufasir apalagi mujtahid perempuan dimasa Islam awal. Padahal kita semua umat Islam tahu Khadijah dan Aisyah serta istri-istri nabi adalah salah satu pionir dalam hal ini.

Fenomena yang lebih menggelikan adalah disaat hari-hari menjelang pilgub putaran 2. Kalangan anti minoritas dan anti perbedaan berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan dirinya dipilgub putaran 2. Mulai dengan mengusik perbedaan agama, ras yang berbeda hingga segala ucapan dan tindakannya dikasuskan kepengadilan sebagai strategi dalam melarang Ahok untuk tampil melanjutkan menjadi orang pertama dan menjabat gubernur kedua kali di DKI Jakarta. Dan akhirnya benar bahwa ia pun harus menerima kekalahan dengan lapang dada dan bersikap bijaksana.

Fenomena aneh ini lagi-lagi mirip kiranya dengan fenomena perempuan dimasa Islam awal. Perempuan yang sudah begitu dihormati dan diberi kedudukan tinggi oleh Islam dan dipraktekan oleh nabi sendiri menjadi memudar karena generasi selanjutnya dengan keegoisan dan merasa lebih superior yang tidak biasa menerima perempuan turut andil dalam urusan-urusan yang terbilang urgen. Sehingga pasca nabi wafat, eksistensi perempuan pun turut memudar dan semakin hilang. Hanya istri-istri dan perempuan ahlul bait nabi yang suaranya bisa kita dengar melalui periwayatan mereka, adapun kontribusi perempuan dalam urusan politik, tafsir, bahkan juga ijtihad tidak lagi terdengar kembali.

Itulah beberapa fenomena perjalanan Ahok yang sedikit sama dengan potret kedudukan dan perjalanan perempuan di masa Islam awal. Meski perempuan dimasa nabi diangkat kedudukannya baik dalam teori (al-Qur’an dan Hadis), juga prakeknya seperti dalam tindakan yang dilakukan oleh nabi kepada kaum perempuan. Namun sangat disayangkan perempuan kembali di posisikan yang kurang menguntungkan setelah hidupnya kembali nuansa superioritas laki-laki atas perempuan dan tradisi Jahiliyah dimasa-masa pasca Rasul wafat terlebih masa Muawiyah.

Pada akhirnya, meskipun secara rasionalis mereka bisa diterima untuk bisa menduduki dan berkontribusi yang sama dengan yang lainnya dalam kancah perpolitikan sehingga mampu menjunjung tinggi asas demokrasi, namun dengan kekalahan Ahok dan potret perempuan di masa Islam awal membuktikan bahwa secara sosiologis dan psikologis masih belum bisa untuk diterima oleh masyarakat luas. Wallahu A’lam.