Peristiwa Isra’ dan Sisi Rasionalitasnya

1
337

Sispek.com – Peristiwa Isra’ dulu dianggap perjalanan mustahil, mengingat perjalanan yang mencapai jarak kurang lebih 1.500 km itu hanya ditemput tidak sampai 1 malam. Di tengah perdebatan itu, ilmu pengetahuan teknologi menjawab kegelisahan itu dengan landasan yang cukup rasional.

Memang, perjalanan nabi dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha dilakukan begitu cepat. Jika peristiwa dianalisa menggunakan pendekapan logika sederhana dan budaya, maka hanya akan melahirkan keraguan-keraguan terhadap. Jika dikaji dalam perspektif agama, hanya akan melahirkan keyakinan yang tak beralasan.

Perjalanan nabi dalam kaitannya dengan ruang dan waktu, pantasnya didekati menggunakan kajian sains, karena tentang ruang dan waktu adalah objek kajian sains. Sains terus mengembangkan penelitiannya hingga sampai 1000 tahun setelah terjadi Isra’, ia menemukan teori relativitas cahaya yang kemudian menjadi landasan utama ditemukan teori annihilasi. Dari teori annihilasi inilah sains telah berjasa besar membuktikan bahwa perjalanan nabi itu cukup rasional.

Einstein mengatakan bahwa tidak ada satupun yang mutlak di dunia. Itu artinya, ada kemungkinan suatu benda bisa diubah menjadi selain benda. Dalam teori annihilasi dijelaskan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.

Tampaknya inilah rahasia cepatnya perjalanan nabi. Sebelum melakukan perjalanan, tubuh Nabi terlebih dahulu diubah wujudnya menjadi cahaya. Ketika tubuh nabi berubah menjadi cahaya, maka segala sifat cahaya melekat padanya. Oleh karena itu, ia mampu melaju dengan kecepatan cahaya. Maka perjalanan cepat dalam waktu sangat singkat menjadi sangat mungkin dilakukan oleh seorang manusia.

Tampaknya, Allah telah menunjukkan tanda-tanda tentang dahsyat hukum alam yang Ia ciptakan. Itu adalah tanda awal yang jika manusia menelitinya dengan baik, maka hukum itu bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk segala urusan manusia. Ayat itu menjelaskan tentang ajuran kepada tiap manusia agar terus menggunakan akalnya demi memahami hukum alam dan memanfaatkannya dengan baik.

Baca Juga :   Celotehan Muslim Di Bus P20 dalam Menanggapi Demo 505

Maka dari itu, sangat aneh jika manusia diminta agar membelenggu akalnya. Justru Allah mengatakan sebaliknya agar menggunakan akal semaksimal mungkin untuk memahami ayatnya. Mulai saat ini umat manusia harus rasional, karena itu anjuran langsung dari Allah.