Sispek.com – Perjalanan luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (Mi`raj) memang terkesan seperti mendengarkan dongeng belaka. Hal itu disebabkan perjalanan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad yang begitu jauh, namun dapat Ia tempuh hanya dalam waktu satu malam saja. Tidak hanya itu, bahkan Nabi Muhammad pun sempat bolak-balik untuk menyepakati soal jumlah shalat yang akan diwajibkan kepada semua umat manusia di muka bumi ini. Peristiwa yang disebut “Isra’ Mi`raj” ini terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1.
Peristiwa “Isra’ Mi`raj” memang sangat sulit untuk diterima akal sehat. Kenapa demikian? Tentu karena melihat tidak ada satu pun teknologi pada saat itu dan bahkan sampai sekarang yang mampu mengantarkan seorang manusia sampai pada langit ke tujuh dengan waktu sesingkat itu. Tapi tidak cukup rasionalkah apabila mengatakan bahwa Tuhan yang Maha Kuasa dapat melakukan segala sesuatu yang tak terbayangkan? Kalaupun Tuhan mau melipat dunia ini, dengan sangat mudah akan dilakukan-Nya. Apabila Ia tak bisa melakukan itu, rasional kah? Tentu, Peristiwa Isra’ Mi`raj menunjukkan “rasionalitas” ke-Tuhan-an.
Kita mengingat bahwa pesan penting yang disampaikan pada peristiwa “Isra’ Mi`raj” itu adalah kewajiban setiap manusia untuk melaksanakan shalat 5 waktu dalam sehari semalam. Sebelum Nabi Muhammad melakukan “negosiasi” , bukan hanya 5 waktu saja, tetapi 50 waktu.
Kalau kita diwajibkan melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu, berarti rata-rata dalam setiap 48 menit kita harus menunaikan 1 shalat. Hal ini berarti tiada waktu yang dapat kita lewati tanpa melaksanakan shalat.
Setelah Nabi ber-“negosiasi” dengan Allah, kemudian kita hanya dikenakan perintah 5 waktu saja. Apa sebenarnya yang menyebabkan Allah menerima “negosiasi” tersebut?
“wa aqimi al-shalaata lidzikriy” (surat thoha ayat 14), ayat ini menunjukkan bahwa mendirikan shalat dimaksudkan agar seorang hamba dapat menghadirkan Allah dalam hati dan pikirannya. Intisari dari shalat adalah mengingat Allah. Apabila dalam setiap aktivitas sehari-hari, kita sudah bisa menghadirkan Allah dalam hati dan pikiran kita maka sejatinya kita pun sedang melaksanakan shalat. Sehingga, dapat dikatakan bahwa perintah 5 waktu sama saja dengan 50 waktu, tidak ada bedanya. Yang artinya bahwa sebenarnya tidak pernah ada “negosiasi”.
Penulis membagi shalat menjadi dua, yaitu:
1. Shalat yang harus mengerjakan rukun-rukunnya.
2. Shalat Maknawi
Yang pertama adalah shalat sebagaimana yang kita lakukan 5 kali dalam sehari. Apabila kita tidak melaksanakan rukun-rukunnya, maka shalat kita tidak dianggap sah.
Yang kedua adalah menerapkan esensi shalat dalam aktivitas sehari-hari. Yaitu apabila kita sudah bisa menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas sehari-hari kita, maka kita sedang menunaikan shalat secara maknawi. Mengingat Allah (shalat maknawi) harus dilakukan pada setiap helaan nafas kita berbarengan dengan aktivitas, maka pada kondisi inilah shalat maknawi dianggap sah.
Shalat 5 waktu hanya sebagai latihan agar kita secara perlahan-lahan dapat menghadirkan Allah dalam hati dan pikiran kita. Saya tidak bisa membayangkan apabila shalat 5 waktu tidak pernah ada. Kemungkinan yang akan terjadi adalah setiap manusia tidak akan mampu melaksanakan “shalat maknawi”, dan tentu akibatnya mereka akan lupa bahwa mereka adalah makhluk yang dicipta. Mereka akan lupa bahwa “Tuhan” itu ada.
Shalat adalah sarana menuju “kesadaran”
Ternyata,” Kesadaran” yang banyak dibicarakan para filosof dapat kita peroleh melalui shalat.

Baca Juga :   Anak akan Berkualitas jika Dididik dengan Metode Ini