Jomblo Saat Lebaran

0
1146

SISPEK.COM – Lebaran adalah waktu setiap orang berkumpul dengan keluarganya. Hari itu dijadikan sebagai ajang menyambung keakraban dengan keluarga besar. Namun, niat mendapat keberkahan karena ngumpul sama keluarga besar, eh… malah dapet malapetaka karena hal yang sering ditanyakan saat kumpul sama keluarga besar adalah “kapan nikah?”

Suatu saat, Boncos pulang kampung buat lebaran dan kumpul bareng keluarga besarnya. Dan biasanya, keluarga besar Boncos berkumpul di rumah orang tua dari bokapnya Boncos atau kakek dan neneknya Boncos. Di sela-sela perbincangan hangat keluarga, Om Gopar, kakak pertama dari bokapnya Boncos melempar pertanyaan,

“Cos kapan nikah?”

Tiba-tiba suasana menjadi hening, semua mata tertuju ke muka Boncos. Boncos merasa dimintai tanggung jawab atas kejombloannya saat ini. Hati Boncos meronta-ronta ingin mengadu, tapi pada siapa? karena keluarga yang selama ini ia anggap sebagai keluarga yang baik hati telah berubah menjadi monster-monster jahat.
Boncos hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan om-nya itu. Senyumnya namun terlihat seperti manusia yang ketahuan melakukan dosa besar.

“Kok senyum aja cos?” Om Gopar memaksa Boncos menjawab pertanyaan tersebut.
“iya nih om, belom ada rencana nikah karena belom ada calonnya” Boncos ngejawab dengan nada naik turun. Ia takut ketauan jomblo.

“oh! Masih jomblo! Bilang dong dari tadi, kan om sama tante bisa bantu cariin jodoh” Om Gopar sambil memegang pundak dan menatap romantis istrinya.

“Gak usah om, Boncos bisa cari sendiri calonnya” Boncos menolak tawaran om-nya.
Boncos merasa jadi jomblo yang hina karena sudah sampai pada tahap “dicariin jodoh” karena dianggap gak bisa nyari sendiri.

“tapi satu pesan om, jangan ampe mati dalam keadaan jomblo ya…” Om gopar ngeledek Boncos.

Baca Juga :   Obat Jomblo

Semua di ruangan itu tertawa terbahak-bahak, Boncos malu dan ingin mati saja. Tapi Boncos mikir, kalo dia mati sekarang berarti dia mati dalam keadaan jomblo.

SHARE
Previous articleJomblo dan Penyakit Lupa
Next articleCelotehan Muslim Di Bus P20 dalam Menanggapi Demo 505
Penulis Buku "Cinta Ingusan"; Perindu yang mengekspresikan perasaan melalui lagu dan puisi; Sang Fakir yang tidak tahu banyak "kata"; Pembelajar yang berusaha tekun menghiasi dunia dengan kata-kata.