SISPEK.COM – Tulisan ini merupakan suatu refleksi terhadap komentar pedagang kecil terhadap aksi 505 dalam bus P20 pasar Senen – Lebak Bulus setelah saya mengantarkan 100 nasi bungkus untuk para pendemo 505 di Istiqlal kemaren.

Sesampainya di stasiun Gambir, mobil sudah tidak bisa lagi bergerakmenuju Istiqlal, karena padatnya masa dan kendaraan. Mobil kami pun masuk ke parkiran stasiun Gambir, hingga saya kebingungan membawa 100 nasi plus air botolnya.

Akhirnya saya memanggil taksi untuk membawakan nasi itu, memaksakan diri untuk menerobos jalan yang macet. Sesampainya di kerumunan itu, saya langsung mengasihkan nasi yang kami bawa itu kepada panitia yang menjaga dapur umum.

Hingar-bingar orasi yang menggelikan terus menerus dilontarkan. Seruan mereka tidak lain adalah tuntutan atas hakim agar menghukum Ahok agar dihukum seberat-beratnya. Tuntutan itu tanpa argumen tentang tuntutannya terhadap hukuman berat Ahok.

Setelah itu saya pun harus segera pulang, namun tidak ada fasilitas mobil umum yang beroperasi di daerah itu. Akhirnya saya harus jalan kaki dari Istiqlal ke pasar Senen. Bener-bener ribet ya.

Setelah sampai di Senen saya masuk ke bus P20 arah Lebak Bulus. Dua orang muslim tiba-tiba nyeletuk memberikan komentar terhadap demo yang dilaksanakan hari itu.

Dia bilang, “untuk apa mereka selalu mendemo pak Ahok yang kinerjanya sudah jelas bisa dirasakan kita semua. Biarlah hakim bisa bekerja dengan baik tanpa desakan-desakan mereka yang menganggu aktivitas kami.” Ia melanjutkan lagi, “memang kalo di sini, orang yang bersih dan jujur dimusuhi tetapi yang korupsi malah dijadikan temen baik.”

Saya berbicara dalam hati, lah dia saja paham mengenai kondisi yang sebernarnya. Karena setelah saya renungkan memang seperti itu adanya. Koruptor kelas kakap yaitu pada DPR yang jelas-jelas menyerukan hak angket kepada KPK malah oleh pendemo dijadikan teman dekat untuk melindunginya.

Baca Juga :   Pernyataan Offset Ketua MUI KH. Ma'ruf Amin Dalam Menyikapi Puisi Sukmawati

Itu lah alasan mengapa selama ini tidak kita temukan aksi besar-besaran untuk menuntut para koruptor, yang jelas-jelas telah merengut uang rakyat sedemikian banyaknya dan telah membuat rakyat menderita, agar dihukum seberat-beratnya. Sebut saja kasus e-KTP yang sekarang lagi heboh-hebohnya.

Dunia memang sudah terbalik. Kemungkaran justru menjadi teman setia bagi mereka, dan kebaikan justru diinjak hingga musnah. Tampaknya sentimen agama membuat daya pikir seseorang menjadi mati. Seseorang yang sudah teriveksi virus agama buta akan menjadi ngaur karena sudah tak lagi mampu berpikir dengan baik. Bagitulah saudara-saudara.