Jomblo, Ramadhan dan Godaan Setan

0
230

Di bulan ramadhan, semua manusia terbebas dari godaan setan. Semua setan dibelenggu dan tidak dapat menggoda manusia selama satu bulan penuh. Dengan keadaan seperti ini bukan malah membuat Boncos merasa senang, namun sebaliknya. Ia merasa sedih karena tidak ada lagi yang setia menggodanya. Ia sadar, sebagai seorang jomblo hanya setan saja yang setia menggodanya setiap waktu.

Saat melihat Boncos sedang menangis, Gandhi bertanya, “Puasa-puasa kok nangis cos?”.

“Gue kehilangan seseorang yang selama ini setia sama gue”, dengan tersedu-sedu Boncos menjawab.

“Emang siapa yang setia sama elo? Loe kan jomblo!” Gandhi dengan mata terheran dan hidung kembang-kempis.

“Selama ini kan setan doang yang setia ngegoda gue, tapi sekarang bulan ramadhan mereka semua dibelenggu. Terus kalo bukan setan siapa lagi yang mau ngegoda gue? ” Boncos nangis histeris.

Gandhi sedih mendengar kata-kata sahabatnya. Sedih bukan karena kata-katanya tapi karena memperhatikan Boncos yang sudah mulai enggak waras.

“Ya udah sabar aja, kan cuma sebulan doang. Entar juga setelah lebaran setannya ngegodain elo lagi”, Gandhi menanggapi agar Boncos enggak tambah sedih. Gandhi berusaha menghibur sahabat baiknya.

“Tapi kan sebulan itu lama… ” Boncos menggerutu seperti kesurupan.

” Sebulan itu cuma 30 hari, kalo dua bulan itu 60 hari. Mending mana 30 hari apa 60 hari? ” Gandhi masih terus berusaha menghibur Boncos.

” Oh iya… Mending 30 hari ya! Makasi ya bro. Loe emang sahabat yang paling mengerti gue. Loe selalu ada di saat gue membutuhkan”, mata Boncos berkaca-kaca.

Dalam hati, Gandhi berujar,”Ini anak emang bener-bener udah gila! ”

Boncos mulai menyeka air matanya. Ia sepertinya sudah menerima kenyataan. Ia sudah rela ditinggalkan oleh setan selama sebulan. Setelah sebulan berlalu, ia berharap setan-setan itu lebih semangat menggodanya bahkan menemaninya setiap saat.

Baca Juga :   Jomblo Saat Hari Kelulusan
SHARE
Previous articleObat Jomblo
Next articlePAGAR
Penulis Buku "Cinta Ingusan"; Perindu yang mengekspresikan perasaan melalui lagu dan puisi; Sang Fakir yang tidak tahu banyak "kata"; Pembelajar yang berusaha tekun menghiasi dunia dengan kata-kata.