PAGAR

0
105

Sispek.com – Karakter masyarakat modern perkotaan dengan karakter masyarakat tradisional pedesaan bisa kita lihat dari corak bangunan rumah.

Bangunan rumah masyarakat modern atau perkotaan lebih mengoptimalkan fungsi kenyamanan sendiri dan efektifitas Ruang serta mendirikan pagar yang kokoh di sekeliling rumah, contoh saja misalkan bangunan Rumah Modern Minimalis dll.

Pada model bangunan rumah masyarakat modern perkotaan yang seperti ini mencerminkan tipologi masyakat yang Individualis, realistis dan skeptis. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal yang disebutkan di atas tadi bahwa optimalisasi kenyamanan sendiri (private) dan efektifitas ruang  serta membangun pagar di sekeliling rumah.

Oleh sebab itu masyarakat modern perkotaan yang konon (dikatakan maju) itu cenderung membatasi diri bergaul dengan tetangga, orang lain yang bukan sealiran secara ideology, dan semacamnya.

Memagari rumah misalkan selain bertujuan untuk menjadi pembeda (kepemilikan) antara rumah yang satu dengan yang lain. Tujuan yang lain adalah skeptis. Meragukan semua kebaikan orang lain bahkan cenderung melihat orang lain sebagai hell is other sebagaimana gagasan Jean Paul Sartre, bahwa orang lain adalah ancaman. Kalau kita bertamu ke rumah orang kota pasti yang ditanyakan pertama adalah keperluanya apa? KTP, begitu seterusnya.

Sedangkan pada bangunan rumah masyarakat tradisional pedesaan kita akan menjumpai sebuah corak bangunan yang lebih komprehensif, akomodatif, lebih ramah lingkungan dan sangat terbuka bagi siapa saja yang hendak mampir.

Bagi masyarakat Tradisional pedesaan, halaman dan teras rumah sengaja dibuat sangat lebar dengan tujuan menampung sekian banyak sanak kerabat dan tamu-tamu yang  berkunjung.

Masyarakat tradisional pedesaan juga akan sangat peka menyapa setiap siapa saja yang berlalu lalang melintas di depan rumah mereka, bahasanya komunikatif tanpa tendensius kepentingan apapun. Kalau dalam bahasa Mustafa Bisri atau yang lebih akrab disapa Gus Mus, bahwa masyarakat tradisional pedesaan menganggap orang lain itu sebagai Mbolo atau dulur (sahabat atau saudara).

Baca Juga :   Kehilangan Gus Dur, Kehilangan Guru Bangsa, dan Kehilangan Identitas

Sebagian dari kita mungkin menjumpai beberapa bangunan rumah masyarakat tradisional pedesaan yang memagari rumahnya. Akan tetapi tujuan dari hal tersebut tidak lain adalah untuk hal kebersihan, yakni bersih dari kotoran ayam, itik dan jenis binatang ternak lainya yang membuang kotoran sembarangan di teras rumah yang lebar serta halaman rumah yang luas, bukan karena menganggap keberadaan orang lain sebagai ancaman sehingga mengharuskan mereka (masyarakat tradisional pedesaan) memagari rumahnya.