Karikatur Perempuan Menor/Gambar Google image

SISPEK.COM – “Ketika aku mulai lelah dan bosan untuk mencari ilmu,Saat itu aku ingat bahwa anak-anakku kelak berhak lahir dari seorang ibu yang cerdas”.

Sering kali kita mendengar celetukan “untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Toh, ujung-ujungnya perempuan itu di dapur”. Saat ini, perempuan tidak lagi mempunyai keterbatasan untuk terjun dalam dunia pendidikan, karir, bahkan dalam perpolitikan. Lain halnya dengan dulu, sekarang perempuan mempunyai hak dan kebebasan yang sama untuk mengeksplorasi potensi yang ada di dalam diri perempuan.

Bahkan di dalam Qur’an pola kesetaraan relasi gender sangat menarik untuk diperhatikan. Tipe-tipe manusia unggul dan manusia bobrok dalam Qur’an tidak hanya di dominasi oleh satu jenis kelamin (Inggris: sex) saja. Tapi Qur’an mengungkapkan secara imbang yaitu “laki-laki dan perempuan” sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Tawbah/9:71 :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi maha bijaksana.

Oleh sebab itu, stereotype terhadap diri perempuan sudah sepatutnya dilihat dengan cara pandang moral bagaimana seharusnya menjadi perempuan?. Bukan lagi melihat perempuan dengan sudut pandang patriarki.

Terkait dengan judul tulisan di atas tentang “Cantik Boleh, Bodoh Jangan”, penulis hanya ingin mengajukan satu pertanyaan mendasar. Why? Kenapa perempuan harus cerdas? Pertama, kelak anak kita berhak lahir dari seorang ibu yang cerdas. Seperti yang disampaikan oleh Penyair Neoklasik arab  Mohamad Hafidz Ibrahim Fahmi bahwa : A mother is a school, preparing her is like preparing a good nation. Seorang ibu adalah sekolah, jika kau persiapkan ia dengan baik, maka kau  telah menyiapkan generasi harapan. Untuk menyiapkan generasi hebat butuh perempuan yang hebat dan cerdas. Untuk itu perempuan harus berpendidikan tinggi serta diimbangi dengan akhlakul karimah. Karena untuk jadi seorang ibu tak cukup hanya bisa masak, macak dan manak saja. Tapi juga harus bisa menanamkan karakter yang baik bagi si buah hati.

Baca Juga :   "Islam, Hari Kartini dan Adik Perempuanku"

Kedua, cantik saja tidak cukup. Big NO to beauty without brain. Kasarnya, percuma cantik kalau kagak ada otaknya. Cantik memang merupakan sebuah daya tarik tapi cerdas berada satu stage di atas cantik, lho. Cantik itu mudah tapi cerdas? Dampak dari ketidakcerdasan perempuan ini sangat banyak sekali, seperti intimidasi, marginalisasi, diskriminasi, perdagangan, eksploitasi dan lain sebagainya.

Kasus-kasus yang menjadikan perempuan sebagai korbannya juga marak terjadi dari dulu bahkan sampai saat ini, seperti kasus yang dilansir “Hindustan  Times” senin (14 Agustus 2017) diberitakan bahwa seorang perempuan India yang bekerja sebagai koki hotel bintang lima diperkosa dan dilempar dari lantai empat sebuah gedung. Berita ini menambah kasus perkosaan di Negara Asia Selatan yang berdasarkan data pemerintah india pada 2015, sebanyak 6 perempuan diperkosa setiap harinya. Juga banyak lagi kasus lainnya, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pekerja rumah tangga di luar negeri tidak dibayar, diperbudak dengan jam kerja yang sangat panjang bahkan sampai kekerasan fisik dan seksual, hingga berujung pada kematian.

Maka dari itu, perempuan harus meraih pendidikan setinggi dan seoptimal mungkin untuk mencerdaskan diri guna mengakhiri segala bentuk diskriminasi, kekerasan, perdagangan dan eksploitasi terhadap perempuan.

Jadikan pendidikan dan kecerdasan sebagai benteng intimidasi dari segala bentuk yang merugikan perempuan. Sebab sebagaimana penjelasan Qur’an di atas bahwa perempuan dan laki-laki di pandang setara dan berkewajiban yang sama dalam mengajak pada kebaikan dan mencegah pada keburukan.