Manfaat Kiai Bagi Politisi Di Pamekasan

0
1557
Foto Jawa Pos

SISPEK.COM – Terpilihnya Syafi’i sebagai bupati Pamekasan pada pemilihan 2014 silam tidak lepas dari peran dukungan kiai yang sangat dahsyat. Namun tampaknya, para kiai hanya dimanfaat olehnya bagaikan sepah diambil sarinya, pengaruh para kiai musnah begitu saja setelah ia terpilih.

Kiai sebagai sosok yang berpengaruh kuat di masyarakat bagaikan permata yang mensilaukan mata politisi. Tidak heran jika dukungan para kiai sangat penting bagi terpilihnya suatu calon. Di pamekasanpun juga demikian. Pada pemilihan tahun 2014, Syafi’I memenangkan pemilu karena mendapatkan dukungan penuh dari 250 ulama berpengaruh di Pamekasan. (https://news.okezone.com/read/2012/07/31/339/671318/250-kyai-dukung-syafi-i-kholil-asy-ari-di-pilkada-pamekasan).

Tampaknya para kiai telah mencurahkan segala kemampuannya hingga mereka mempertaruhkan segalanya demi memenangkan Syafi’i dalam kontes pilkada. Hal tersebut tampak dari fakta bahwa keterlibatan kiai dalam pilkada tersebut melahirkan perselisihan antar kiai pendukung paslon lain. Itu berarti para kiai telah mengorbankan persaudaraan dan silaturrahim antar para kiai demi kemenangan Syafi’i.

Perselisihan antar tokoh mempengaruhi masyarakat di Pamekasan. Bahwa kejadian buruk tersebut telah melahirkan perpecahan bahkan pertengkaran antar masyarakat satu dengan yang lainnya. Pengaruh para kiai bagaikan badai yang tak terbendung oleh siapapun. Perpecahan di masyarakat terus berlasung hingga kini.

Bagi masyarakat pamekasan, para kiai merupakan wakil Tuhan di bumi. Maka ucapan dan segala tindakannya merupakan justifikasi kebenaran Tuhan. Sebagai wakil Tuhan, maka pengaruh para kiai terhadap masyarakat Pamekasan sangat dahsyat. Ini yang menjadi daya tarik kiai bagi para politisi. Bahwa ucapan para kiai menjadi meriam yang mematikan bagi para lawan politik.

Bagi para politisi, kiai dipandang sebatas mesin suara yang bisa dimanfaatkan untuk menggerus suara pemilih. Faktanya kiai memang memiliki kekuatan yang sanggup membuat manusia menjadi taat secara tulus, setia, patuh dan bersatu. Sikap-sikap ini perlu untuk suksesnya politisi dalam memenangkan pemilihan. Fakta ini sejalan dengan yang dikatakan Machiavelli bahwa kiai dengan agama yang digelutinya dapat membangun dan membentuk sikap manusia menjadi tulus, taat, setia, patuh dan bersatu.

“Kiai dengan agama yang digelutinya dapat membangun dan membentuk sikap manusia menjadi tulus, taat, setia, patuh dan bersatu.”

Teori ini terbukti benar, bahwa perjuangan hebat para kiai Pamekasan dalam memperjuangkan Syafi’i untuk memenangkan pemilu, hanya dibutuhkan hingga di bilik suara. Setelah terpilih menjadi bupati pamekasan, Syafi’i dengan mudahnya menghianati ajaran-ajaran para kiai yang mempertaruhkan hidupnya untuk kemenangannya di pilkada.

Baca Juga :   (Video) Gatot Nurmantyo Berbicara tentang Kriteria Ulama Indonesia yang Patut Ikuti

Korupsi Syafi’i bahkan anjurannya terhadap bawahannya agar juga korupsi merupakan bentuk pengkhianatan politisi dan bukti nyata bahwa kiai tidak lagi dibutuhkan keberadaannya ketika politisi sudah menjadi pemimpin. Jika kehadiran para kiai masih berpengaruh, seharusnya korupsi tidak terjadi, karena para kiai telah mewanti-wanti agar para pemimpin selalu amanah dalam menjalankan kepemimpinanya.