Sumber Foto : Google
Sumber Foto : Google

SISPEK.COMSore ini aku tuntaskan novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini, perempuan yang lahir di Jakarta pada tahun 1967. Saat ini ia tinggal di Denpasar. Ia perempuan yang produktif dalam berkarya. Ia mendapat banyak penghargaan dari berbagai karyanya. Selain novel dan cerita pendek ia juga menulis puisi. Ia pernah menerima penghargaan puisi terbaik dari Jurnal Puisi pada tahun 2002, dan masih banyak penghargaan lainnya.

Berbicara tentang Tarian Bumi, novel ini diracik dengan bahasa yang ringan dan mudah untuk dinikmati. Apalagi ditemani dengan segelas teh tarik. Lengkap sudah kenikmatannya. Pertama kali membaca novel ini, hal yang agak sedikit membingungkan adalah ketika memahami tentang silsilah. Karena dalam novel ini banyak sekali memakai bahasa Bali. Akan tetapi jangan khawatir. Kita akan terbantu dengan adanya silsilah yang disertakan pada halaman 176.

Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan yang bernama Ida Ayu Telaga, perempuan Bali yang lahir dari kasta Brahmana, yakni kasta tertinggi yang ada dalam agama Hindu, berdiri tegak di antara adat dan kebebasan. Sebagai perempuan yang terlahir dari kasta Brahmana ia harus menikah dengan laki-laki yang berkasta Brahmana pula. Tetapi Dayu Telaga rupanya lebih tertarik dengan laki-laki berkasta Sudra, yakni kasta terendah dalam agama hindu, hingga akhirnya ia harus rela turun kasta dari Brahmana menjadi Sudra dan melakukan upacara patiwangi untuk melepas kastanya, juga agar keluarganya tidak mendapatkan nasib sial karena pilihannya menikah dengan kasta yang lebih rendah. Telaga adalah seorang perempuan yang berjuang melepaskan diri dari sistem kasta yang dinilainya tidak adil.

Banyak tokoh perempuan dalam novel Tarian Bumi ini yang berperan menjadi penari. Penari yang bermimpi mendapat laki-laki berkasta Brahmana untuk meningkatkan status sosialnya. Salah satu dari mereka adalah Luh Sekar yang akhirnya berhasil mendapatkan lelaki berkasta Brahmana, Ida Bagus Ngurah Pidada yang akhirnya melahirkan anak perempuan bernama Dayu Telaga. Buah dari ambisi Luh Sekar tak semanis yang ia bayangkan. Suaminya yang berkasta Brahmana yang mampu mengangkat drajat status sosialnya itu ternyata hobi main perempuan dan mabuk-mabukkan. Tapi ini adalah konsekuensi yang harus ia bayar mahal untuk pencapaian ambisinya itu.

Ternyata Luh Sekar tidak puas dengan ambisi tersebut. Sehingga ia harus memaksakan ambisinya pada Dayu Telaga. Luh Sekar atau Jero Kenanga ini memang sosok perempuan yang keras kepala. Ia ingin melihat Dayu Telaga bahagia, tapi ia tidak tahu apakah Telaga bahagia dengan ambisinya itu?

Baca Juga :   Bulu Idung VS Bulu Betis

Kakek Telaga sebagai laki-laki yang dipinang oleh Perempuan berkasta Brahmana menasehati Luh sekar, bahwa kebahagiaan itu tidak memiliki pakem. Tidak ada kriteria idealnya. Setiap orang meiliki warnanya yang berbeda, yang ia dapatkan dari pengalaman hidup. Hidupmu mungkin penuh warna, tetapi tetap akan berbeda dengan warna anakmu. Sebagai laki-laki yang dipinang oleh perempuan Brahmana, ia menjadi laki-laki berstatus perempuan. Ia harus mengikuti apapun kata istrinya. Secara material keluarga Griya Dayu Telaga sama sekali tidak kekurangan. Tetapi hidup mereka gelap, bahkan lebih gelap dari malam. Hanya Dayu Telaga lah yang berani keluar dari kegelapan.

Menarik sekali racikan lakon dalam tarian bumi ini. Oka Rusmini berhasil menarikan gagasan yang mendobrak diskriminasi gender dan kasta. Sosok telaga adalah sosok perempuan yang berani mendobrak diskrimansi gender dan kasta dalam budayanya. Ia rela menanggalkan segala bentuk kemewahan yang ia dapatkan di kasta Brahmana demi mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kemewahan yang banyak didambakan perempuan sudra. Bahkan banyak perempuan Sudra mengejar kemewahan tersebut juga berambisi mendapatkannya dengan cara apapun. Termasuk dengan cara menjadi bintang di kasur. Seperti Luh Kendran, teman Luh Sadri (adik ipar dari Telaga) yang demi memenuhi keinginannya menjadi perempuan kota yang cantik ia mengoperasi bibir dan dagunya hingga ia terlihat seperti boneka. Tapi sayang kecantikannya tidak bisa dinikmati di bawah terik matahari. Ia harus membayar mahal untuk menjadi cantik. Bahkan kata Luh Sadri “Untuk menjadi cantik perempuan kota itu rela wajahnya ditusuk, diiris, dan dilubangi.”.

Lagi-lagi Telaga adalah perempuan yang merdeka. Ya, merdeka dari konstruksi budaya kasta, karena ia mampu keluar dari kasta dan berani menanggung segala konsekuensinya. Juga merdeka dari konsep cantik yang menyiksa. Telaga telah menemukan warnaya sendiri. Kali ini ia benar-benar menjadi perempuan yang merdeka tanpa terpengaruh konstruksi sosial. Ia mampu menyatakan sikap dan memberi makna baru terhadap perempuan sebagai diri yang merdeka. Sudahkah kita menjadi perempuan yang merdeka?

Aku kira novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini ini sangat inspiratif. Sebagai perempuan, aku merekomendasikan kepada semua perempuan untuk membaca novel yang bergizi ini. Semoga setelah membacanya, kita (perempuan) terbebas dari segala belenggu dan tempurung kegelapan yang selama ini mewujud sebagai konstruksi sosial yang tanpa disadari telah mereduksi hakikat perempuan.