Model Efektif Pembangunan Berkelanjutan dalam Dunia Islam

0
278

SISPEK.COM – Model pembangunan berkelanjutan di dunia Islam ialah berkaitan dengan martabat manusia dan alam. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dalam kehidupan. Manusia akan sejahtera baik secara material maupun spiritual ketika manusia mampu mengoptimalkan perannya dalam memanfaatkan alam dengan bijaksana. Pemanfaatan alam yang bijaksana yaitu mempertimbangkan kebutuhan manusia dan alam saat ini juga yang akan datang. Maka Islam menawarkan pembangunan berkelanjutan tidak hanya dari perspektif material, tetapi juga spiritual. Spiritualitas menjadi akar dari sustainable development Islam. Itulah yang dikatakan oleh Dr. Laylla Rkiouak dalam tulisannya “Bridging the Gap: An Islamic Sustainable Development Model for the WANA Region”

Apa yang disampaikan di atas merupakan model pembangunan berkelanjutan Islam sebagai tatanan hidup. Model tersebut berpusat di sekitar martabat manusia. karena manusia sebagai khalifah mempunyai peran penting dalam mengatur alam serta kehidupan. Menurutnya terdapat prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan Islam di antaranya ialah, Penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, keadilan, pendidikan, public interest (maslahah), pengelolaan sumberdaya alam yang humanis, dan ekonomi.

  1. HAM

Martabat manusia bukan hanya hak berada dan tumbuh dalam diri manusia, tapi ia merupakan ajaran fundamental Islam. Pengakuan Islam atas martabat manusia terdapat dalam kebebasan yang Allah ajarkan kepada semua manusia.“Kami telah memuliakan anak-anak Adam” (al-Isra’ : 70). Al-Quran menyatakan bahwa manusia diciptakan “sebagai ciptaan terbaik”; Mereka dilahirkan dalam keadaan bebas dan berintelektual. Hal ini memungkinkan mereka membuat pilihan rasional. Kemampuan inilah yang menjadikan manusia berstatus lebih tinggi dibanding makhluk lainnya. Inilah mengapa dalam Islam, bahkan seorang yang belum lahir mempunyai hak untuk hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an dan sunnah melarang penganiayaan, agresi dan pelanggaran HAM lainnya. Dengan demikian, pembangunan harus didorong melalui kebaikan dan kebenaran.

 

  1. Keadilan

Dalam Islam, keadilan adalah hak, tanggung jawab, dan bahkan keadilan merupakan kewajiban terhadap Tuhan. Inilah nilai tertinggi keadilan dalam Islam, yaitu adil karena kepatuhan atas kewajiban kepada Tuhan. Islam juga mengakui pentingnya persamaan di depan hukum, tanpa diskriminasi ras, jenis kelamin, agama atau status. “Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (al-A’raf : 181)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.” (al-Nisa’ : 135)

  1. Pengetahuan Intelektual dan pendidikan

Pentingnya pendidikan dalam Islam disorot dalam ayat al-Quran “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq : 1-5)

Di samping itu, Al-Ghazali telah menawarkan model pendidikan yang membahas tentang pembangunan sebagai bagian integral pembelajaran, yang akhirnya mengarah pada pengetahuan tentang Tuhan.

  1. Maslahah (Public Interest)

Dalam hal ini, maslahah berkaitan dengan asas kesejahteraan sosial; yaitu berupa keputusan dan tindakan yang berdampak kesejahteraan, demi kepentingan terbaik masyarakat. Sehubungan dengan pembangunan berkelanjutan, maslahah dapat dikaitkan erat dengan perlindungan orang-orang yang rentan, lemah, minoritas. Inilah slah satu prinsip utama dalam Islam. Islam menuntut perilaku kewarganegaraan, kasih sayang untuk orang lain, dan perlindungan kelompok tertentu seperti anak-anak, wanita dan orang tua:

  1. PENGELOLAAH SUMBER DAYA ALAM
Baca Juga :   Kehilangan Gus Dur, Kehilangan Guru Bangsa, dan Kehilangan Identitas

Pesan Islam langsung diambil dari asas kesatuan: anggapan bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber. Islam melihat alam semesta sebagai matriks saling terkait antara sistem abiotik dan biotik di mana setiap entitas memiliki peran spesifik yang membentuk kesatuan yang koheren dan utuh. Dalam Islam alam tidak hanya mendukung dimensi fisik kebutuhan manusia, tapi juga dimensi spiritual.

” Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-ghaafir : 57)

Dengan adanya hubungan saling melengkapi antara manusia dan alam. Al-Quran dan Hadits menguraikan berbagai prinsip tentang etika lingkungan dan perlindungan sumber daya alam. Islam mengakui peran kolektif manusia sebagai pelayan bumi.

“Jika seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, dan kemudian seekor burung, atau seseorang atau hewan yang memakannya, itu dianggap sebagai hadiah amal untuknya.” (Shahih Bukhori).

Beberapa ilmuwan melihat peran perwalian ini sebagai barometer kesuksesan berkenaan dengan pelestarian modal alam dan pemenuhan tanggung jawab umat Islam terhadap Tuhan:

” Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-An’am : 167). Akhirnya, Islam menekankan perlunya menjaga keseimbangan. Al-Quran menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan secara proporsional dan ukuran. Agar masyarakat manusia menjadi sempurna. Keseimbangan antara ialah keseimbangan nilai material dan spiritual. Islam mengajarkan moderasi dalam segala hal, moderasi itu kata lain dari keseimbangan. Namun, untuk menjaga keseimbangan ini, pengetahuan tentang keterbatasan pola produksi dan konsumsi sangat dibutuhkan.”Makan dan minum dari rezeki yang diberikan Allah, dan jangan melakukan pelecehan di bumi, menyebarkan korupsi.” (al-Baqarah : 60).

  1. EKONOMI

Al-Ghazali mengidentifikasi tiga tujuan kegiatan ekonomi: pencapaian swasembada untuk kelangsungan hidup manusia, penyediaan kesejahteraan keluarga dan penyediaan untuk membantu kebutuhan ekonomi. Al-Quran, Hadits, Sunah dan syariah menetapkan kerangka kerja yang lengkap dalam kaitannya dengan bisnis. Dalam kerangka ini, bisnis dipahami sebagai kegiatan ekonomi yang bermanfaat secara sosial, moral, dan didorong secara religius, asalkan pedoman Islam dipatuhi.

Al-Ghazali juga telah menyebutkan lima pedoman tentang kebajikan pasar: (i) keuntungan tidak berlebihan, (ii) lunak terhadap orang miskin dan ketat terhadap orang kaya, (iii) bersikap lembut dan fleksibel, (iv) segera melunasi hutang dan memberikan kemungkinan pembatalan hutang, dan (v) memberikan kredit kepada orang miskin tanpa mengharapkan pembayaran kembali. Yang sangat relevan dengan model pembangunan berkelanjutan adalah kepekaan Islam terhadap orang miskin dan kebutuhan orang kaya untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan mereka dalam rangka mewujudkan keseimbangan. Dalam rangka pemenuhan keseimbangan.