SISPEK.COM _ Dina Y. Sulaeman, komentator Tim-Teng alumnus Magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran UNPAD Bandung, yang sekarang tercatat sebagai direktur Indonsia Center for Middle East Studies. Banyak menulis buku seputar Tim-Teng. Salah satunya “Salju di Aleppo” yang pernah dapat penolakan keras dari Jama’ah Ansharusy Syari’ah (JAS) ketika launching di laboratorium HI-FISIP Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang 5 mei 2017.

Keberatan ormas tersebut lantaran pemateri dari diskusi tersebut adalah tokoh Syi’ah yang mau mengkaburkan fakta yang ada di suriah. Namun setelah saya ketemu dan pernah diskusi bareng mba’ Dina dan teman-teman Ansor di gedung Ansor Jakarta Timur beberapa bulan lalu (tepatnya bulan Ramadhan 2017), fakta dan tudingan ormas tersebut tidaklah benar. Berangakat dari kenyataan ini, kemudian saya mulai tertarik dengan tulisan dan analisis mba’ Dina seputar Tim-Teng.

Ketertarikan saya terhadap tulisan mba’ Dina Sulaeman semakin berlanjut sehingga saya terus memburu tulisan terbarunya lewat akun FB beliau atau sengaja mampir ke blog pribadinya. Di sana saya banyak menemui tulisan mba’ Dina yang beragam tentang timteng.

Entah kenapa saya tertarik dan menikmati komentar dan analisis beliau, yang jelas tulisanya enak dibaca padat namun renyah (pas banget untuk anak muda seumuran saya). Seandainya nanti saya punya duit berlebih, ingin sekali saya memborong semua buku-buku beliau (InsyaAllah). Saya lagi meburu satu buku beliau “Pelangi di Persia”. Buku ini ditulis tahun 2007, sebagian isi buku ini beliau sajikan gratis di akun FB nya sampai lima sesi. Sehingga menambah penasaran saya terhadap isi buku tersebut.

Cuplikan cerita dari buku “Pelangi di Persia” yang diposting di FaceBook Dina Sulaeman antara tgl 5-17 November 2017, bercerita tentang traveling beliau ke Sanandaj ibu kota provinsi Kurdistan-Iran. Sejak awal rencana beliau memberitahukan akan melakukan perjalanan ke kota tersebut, seorang sahabatnya di iran fariba namanya, tidak mengizinkan kepergian mba’ Dina. Sebab ada beberapa milisi separatis kurdi yang pernah membantai tetangganya yang dituduh pro-pemerintah Iran. Seorang teman yang lain juga memberitahukan beliau bahwa pada saat berkunjung ke kota tersebut dirinya memperoleh penjagaan yang ketat dari intel. Sehingga beberapa teman menyarankan kepada Mba’ Dina untuk memakai pakaian yang khas Indonesia supaya mengurangi kecurigaan orang-orang kurdi di kota yang akan di kunjunginya.

Selanjutnya mba’ Dina bulat dengan niatnya berkunjung ke Sanandaj dengan rekomendasi suami fariba bahwa kota tersebut aman untuk dikunjungi. Muhammadi, seorang asli kurdi dalam cerita selanjutnya menjadi guide mba’ Dina selama perjalanan mengunjungi beberapa tempat di sanandaj ibu kota Kurdistan iran tersebut.

Mba’ Dina menceritakan perjalanan menuju kota sanandaj degan Maskapai Aseman Airlines (pesawat floker 100). Sanandaj adalah kota sederhana yang mulai merangkak maju. Namun meski begitu “kota ini sangat westernized anak-anak mudanya sudah mulai memakai pakaian ala barat dan meninggalkan pkaian tradisional” jelas Mohammadi kepada mba’ Dina. Berbeda dengan penduduk di kampung Mohammadi tinggal Marivan. Namun meski begitu Sanandaj tetaplah kota sederhana “saya tidak menemukan gedung-gedung mewah di sini”. Terang mba’ Dina dalam cerita sesi-3.

Baca Juga :   "Rasionalitas Isra' Mi`raj dan Negosiasi Nabi Muhammad"

Kedatangan mereka di Sanandaj menjadi perhatian orang-orang kurdi di sana. Di halaman masjid jamik Sanandaj ketika mba’ Dina berteduh dan numpang solat, beberapa pemuda memperhatikan dan ada yang bertanya dengan bahasa ingris “where are you from”? mba’ Dina pun menjawab “Indonesia”  mereka kelihatan takjub, seperti terlihat ingin melanjutkan pertanyaan tapi entah karena keterbatasan bahasa atau bagaimana tidaklah tahu. “Mungkin dibenak mereka saya dikira dari korea atau dari jepang dan tak ada gambaran di benak mereka ada Negara Indonesia di luar sana” gumam mba’ Dina.

Masih peristiwa di mesjid, pemandangan beragam tatacara orang melaksanakan solat. Ada yang bersedekap ala Sunni dan ada yang tak bersedekap ala orang Syi’i. Namun di mesjid tersebut tak ada kegisruhan lantaran beragam cara orang melaksanakan solat dengan cara berbeda, semua berdampingan dan rukun. Bahkan setelah solatpun para lelaki termasuk suami Mba’ Dina asyik ngobrol satu sama lain.

Percakapan berlanjut kali ini seputar pernikahan SunniSyi’ah. Adalah Muhammadi yang memulai percakapan. Diawali dengan pertanyaan seputar agama dan madzhab “apa agama orang Indonesia”? kemudian dijawab oleh suami mba’ Dina bahwa Indonesia terdiri sekitar 220 juta jiwa 90% beragama Islam berarti ada sekitar 198 juta jiwa yag muslim. “madzhabnya apa”? Tanya Muhammadi lebih lajut. “ muslim Indonesia sebagian besar Ahlu-Sunnah dengan madzhab Syafi’I”. lebih lanjut lagi sang guide menerangakan bahwa orang kurdi Sanandaj mayoritas Sunni cuma ada sekitar 10% yang Syi’ah. Bahkan di beberapa tempat Kurdistan cukup banyak yang bermadzhab Syi’ah meski mayorits tetap Sunni. Meski begitu tak pernah ada perselisihan dalam perbedaan. Kehidupan mereka adem ayem dan baik baik saja dalam perbedaan tersebut, jelas Muhammadi ketika ditanya oleh mba’ Dina.

Lebih lanjut Muhammadi bercerita kepada mba’ Dina bahwa, relatif tidak ada masalah dengan perbedaan tersebut. sebab mereka sama-sama orang kurdi. Bahkan, banyak diantara orang Syi’ah yang menikah dengan orang Sunni seperti yang terjadi dengan anak pamanya yang menikahi perempuan Syi’ah. Proses pernikahanya dengan dua cara yaitu dengan cara Sunni dan dengan cara Syi’ah. Meski di suatu ketika mungkin ada yang ikut ke salah satu madzhabnya entah yang Sunni ikut yang Syi’ah atau yang Syi’ah ikut ke yang Sunni. “sejauh ini mereka mereka hidup dengan madzhab masing masing” tegas muhammadi. “Soal anak suatu saat biarlah mereka memilih sendiri keyakinanya”. Sambung Muhammadi kepada mba’ Dina.