PAMEKASAN KABUPATEN GERBANG SALAM, BUKAN KABUPATEN HIBURAN MALAM

0
104

SISPEK.COM – Kondisi Pamekasan semakin kian memprihatinkan. Di samping kemiskinan tetap saja membengkak, maksiat semakin merebak di tengah masyarakat.

Semenjak lengsernya Kholilurrahman dari kepemimpinan di Pamekasan, tempat-tempat maksiat kembali menghirup udara segar. Pertumbuhannya bagaikan jamur yang muncul di berbagai tempat di Pamekasan. Kurang tegasnya pemerintah dalam menindak tempat hiburan menjadikan masyarakat bertindak sendiri untuk menutup tempat hiburan karena tempat tersebut juga menyediakan minum-minuman keras dan perempuan. Tetapi tempat hiburan tetap saja beroperasi, hingga massa Islam melakukan aksi longmarch di kantor PEMKAB Pamekasan yang dipelopori oleh para Habib dan Kiai.

Kalau kita analisa, apa kepentingan pemerintah melonggarkan pengawasan terhadap tempat hiburan tersebut. Kalau kita lihat dari sisi ekonomi, memang tempat hiburan menjanjikan penghasilan yang cukup besar. Hiburan malam berpotensi melahirkan peluang kerja baru, dan mengurangi pengangguran. Di samping itu, pajak yang dikeluarkan tempat hiburan juga akan meningkatkan pendapatan pemerintah.

Tetapi harga diri masyarakat religius tak dapat ditukar dengan apapun. Masyarakat Pamekasan ingin biaya pembangunan Pamekasan berasal dari usaha-usaha yang halal, sebagaimana ajaran Islam. Di samping itu pula, masyarakat merupakan masa depan Pamekasan, sangat disayangkan jika pemerintah merusak generasi penerus kepemimpinan Pamekasan dengan kegiatan-kegiatan asusila yang justru merusak generasi masa depan Pamekasan. Karena menurut agama, maksiat haram dan dapat merusak pola pikir atau merusak sistem otak masyarakat.

Selain itu, tempat hiburan malam juga bertentangan dengan semboyan Pamekasan sebagai kota Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami). Gerbang salam merupakan simbol religiusitas masyarakat Pamekasan. Bahwa masyarakat Pamekasan tidak hanya menginginkan kehidupan yang makmur saja, tapi juga Islami. Itu menandakan bahwa mereka butuh keselamatan di dunia, juga keselamatan di akhirat nanti. Sebagai kabupaten yang berkometmen menjalankan Gerbang Salam, maka seharusnya pemerintah membasmi seluruh kegiatan yang berbau maksiat.

Baca Juga :   Genosida terhadap Muslim Rohingya Bertentangan dengan Ajaran Buddha

Penulis sangat sepakat dengan cara kepemimpinan Kholilurrahman tahun 2012 silam. Dalam kebijakannya, Kholilurrahman selalu mempertimbangkan kehidupan jangka panjang Pamekasan, yaitu melarang segala hiburan yang tidak Islami dan berpotensi merusak pola pikir masyarakat. Tidak hanya itu saja, Kholilurrahman juga membatasi gerakan pengusaha agar kebijakan bisnis para pengusaha tidak sewenang-wenang dan merugikan masyarakat. Semenjak Kholilurrahman memimpin Pamekasan, tidak ada tempat bagi maksiat, dan tidak ada tempat bagi pengusaha yang tak mempertimbangkan masa depan masyarakat.