Pernyataan Offset Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin Dalam Menyikapi Puisi Sukmawati

0
151

SISPEK.COM – Setelah puisi ibu Indonesia oleh Sukmawati mendapat kritikan yang luar biasa dari warganet. Sukmawati pun kaget dan khawatir hingga ia langsung meminta maaf kepada umat Islam dan meminta perlindungan MUI. Kita apresiasi langkah cepat Sukmawati dalam menyikapi masalah ini. Permintaan maafnya, menunjukkan kesadaran Sukmawati akan statusnya sebagai manusia yang rawan salah. Permintaan maafnya merupakan suatu tanda kepahamannya akan kesalahan dirinya. Dari langkah ini lah sebenarnya sukmawati tak masuk kategori orang paling bodoh sebagaimana Plato kategorikan. Plato mengatakan bahwa manusia paling bodoh adalah manusia yang tak tahu bahwa ia tidak tahu. Orang paling bodoh adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Tetapi sukmawati tahu bahwa ia tidak tahu syariah dan menyadari kesalahannya, sehingga ia meminta maaf.

Puisi kontroversi tersebut memang membawa dampak negatif terhadap keutuhan bangsa. Sehingga menjadi langkah yang tepat ketika ketua MUI cepat menanggapi masalah tersebut untuk memadamkan api yang sedang berkobar. Dalam konfrensi persnya, Ketua MUI mengamini permintaan Sukmawati dan memberikan penjelasan bahwa puisi sukmawati tak bermaksud menyinggung umat Islam, tapi sayangnya MUI memenuhinya dengan pernyataan yang offset.

Penulis di sini tidak menyoroti KH. Ma’ruf Amin sebagai Rois ‘Am NU, tidak pula menyorotinya sebagai Kiai, tidak juga menyoroti status keturunannya, tetapi penulis menyoroti langkahnya sebagai ketua MUI dalam menyikapi kasus penistaan agama Sukmawati. Jadi tidak elok jika komentarnya sebagai ketua MUI dikait-kaitkan dengan statusnya yang lain. Karena dalam konferensi persnya jelas, ia berbicara atas nama MUI.

Baca juga:
Teks Lengkap Puisi Sukmawati Soekarno Putri
Komentar-Komentar Menteri Jokowi Yang Menyakiti Rakyat

Sebagaimana diungkapkan Prof. Bambang Pranowo bahwa dalam satu sosok bisa jadi mempunyai banyak status. Ia bisa menjadi seorang dosen ketika mengajar di kelas. Bisa sebagai seorang ayah dan kepala rumah tangga ketika di rumah. Sama halnya dengan Kiai Ma’ruf Amin, ia bisa berstatus sebagai Rois ‘Am PBNU ketika berbicara atas nama NU. Bisa sebagai ketua MUI, jika ia berbicara atas nama MUI.

Sebagai perwakilan dari MUI, Kiai Ma’ruf Amin mempunyai wewenang dalam menilai dan menghukumi status puisi Sukmawati yang telah dinilai masyarakat telah menistakan agama Islam dalam perspektif MUI. Maka Kiai Ma’ruf Amin menyatakan bahwa puisi yang dibawakan Sukmawati sebenarnya tidak menistakan agama Islam, sehingga Kiai berharap agar umat Islam memaafkannya.

Sampai pada pernyataan ini, komentar Kiai Ma’ruf Amin masih dalam ranahnya sebagai ketua MUI dan wajar mengatakan agar umat Islam memaafkan Sukmawati. langkah ini pun seharusnya dapat meredam amarah masyarakat yang tersinggung atas bacaan puisi yang dibawakan Sukmawati.

Baca Juga :   Fadli Zon Hina Kiai Sepuh NU, KH, Yahya Chalil Staquf

Namun ketika KH. Ma’ruf Amin melanjutkan kalimatnya pada himbauan agar masyarakat yang melaporkan Sukmawati kepada polisi agar dicabut, maka inilah pernyataan KH. Ma’ruf amin yang opset. Yaitu pernyataan yang keluar dari koridor kewenangannya sebagai ketua MUI. Permintaan mencabut laporan masyarakat kepada polisi sudah masuk ke yang lain.

Tetapi meskipun KH Ma’ruf Amin dalam hal ini keliru dan kebablasan, tetapi kita pun tak boleh mencaci maki dengan seenaknya. Kekeliruan merupakan sifat dasar manusia. Siapa pun bisa keliru, termasuk nabi. Kekeliruan tak akan pernah berubah menjadi benar dengan menggunakan cacian yang tak etis. Justru cacian-cacian itu akan menimbulkan masalah-masalah baru. Tak elok rasanya jika seorang tokoh yang mempunyai banyak jasa terhadap agama dan negara, dibulli dengan tak manusiawi hanya karena kekeliruan yang cukup sepele.

Tindakan bijak dalam menghadapi kesalahan seseorang ialah dengan cara memperbaikinya. Mengajaknya berbicara dengan tenang, santai dan tetap santun hingga ditemukan titik temu. Ini jauh lebih beradab dan berdampak positif bagi agama, bangsa dan negara. Inilah pendidikan moral yang harus dibangun dalam tatanan sosial kita baik, sosial kemasyarakatan maupun sosial media. Jika umat Islam selalu menghadapi masalah dengan egoisme, caci maki dan tindakan buruk lainnya, sama saja umat Islam dengan masyarakat bar-bar yang tak beradab.

Yang juga sangat disayangkan ketika tokoh nasional sekaliber Fadeli Zon melontarkan pernyataan-pernyataan tak etis dan tak mendidik terkait pernyataan KH. Ma’ruf Amin. Tokoh politisi seharusnya memberikan contoh dan pendidikan yang baik kepada masyarakat dalam menyikapi masalah kebangsaan. Bukan seperti Fadeli Zon yang membuli ketika melihat kesalahan orang. Sebagai tokoh nasional, seharusnya Fadeli Zon memberikan edukasi politik yang apik agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih baik.

Dalam hal menyikapi Sukmawati, umat Islam seharusnya tidak reaktif brutal. Jika memang ada kekeliruan pada puisinya. Mari diperbaiki perbaiki bersama. Kita kritik santun. Jika dia tidak paham Syariah, dekati dia dan ajarkan syariat yang benar. Hanya dengan begitu Sukmawati menjadi paham apa itu Syariah. Jika kekeliruan melahirkan bulli, jika ketidakpahaman seseorang membuahkan caci maki padanya, sampai kapan pun ia tak akan pernah tahu apa itu Syariah.